
USDJPY mencatat tren naik selama tiga hari, sekaligus memperpanjang pemulihan pekan sebelumnya dari level terendah sejak akhir Juli setelah Bank of Japan (BoJ) mempertahankan kebijakan moneter saat ini. Dengan demikian, bank sentral Jepang menepis kekhawatiran terkait langkah bertahap untuk keluar dari kebijakan moneter yang sangat longgar, di tengah kenaikan inflasi baru-baru ini. Pasangan yen ini kemudian menembus level 200-EMA, memperpanjang pemulihan dari area support horizontal yang telah bertahan selama lima bulan. Rebound ini juga sejalan dengan garis RSI (14) yang berbalik naik dari area oversold. Hal ini mengindikasikan potensi kenaikan lebih lanjut pada pasangan tersebut, melampaui EMA utama di sekitar 143.80. Namun, sinyal MACD bearish dan garis resistance yang menurun sejak pertengahan November, berada di dekat 145.30 saat berita ini ditulis, akan menguji kenaikan lebih lanjut. Jika pembeli tetap memegang kendali di atas 145.30, peluang kenaikan menuju level tertinggi bulanan di sekitar 148.35, lalu ke level psikologis 150.00, tidak dapat dikesampingkan.
Sementara itu, semakin santernya kabar tentang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve AS (Fed) pada awal 2024 dapat menekan pasangan USDJPY bersama dengan imbal hasil yang melemah. Hal ini kembali menyoroti area support horizontal yang disebutkan sebelumnya, di kisaran 141.50–142.00. Jika penjual pasangan yen berhasil menembus support 141.50, nilainya dapat turun dengan cepat ke level psikologis 140.00, sebelum level terendah Juli di 137.23 menjadi support utama berikutnya. Setelah itu, tren bearish pasangan ini menuju titik terendah tahunan di 127.20 tampaknya menjadi skenario yang lebih disukai para penjual.
USDJPY kembali mendapatkan momentum kenaikan, tetapi ruang untuk naik tampaknya terbatas.