
Volatilitas pasar belakangan ini masih berlanjut pada hari Selasa, seiring ketegangan geopolitik dan perkembangan global yang terus membebani sentimen. Berita utama seputar perang Israel-Iran dan perkembangan dari KTT G7 mendorong sebagian besar pergerakan pasar. Iran menyatakan terbuka untuk membahas gencatan senjata, sementara Israel dilaporkan mengisyaratkan akan menargetkan para pemimpin Iran di Teheran untuk mengakhiri konflik. AS memperingatkan akan melakukan intervensi jika Iran menargetkan pihak mana pun yang terkait dengan AS.
Mantan Presiden Trump kembali memicu ketegangan dengan berencana meninggalkan KTT G7 lebih awal dan menentang komunike yang berfokus pada gencatan senjata. Ia juga menegaskan kembali bahwa Iran tidak boleh memperoleh senjata nuklir dan mendesak warga AS untuk meninggalkan Iran. China menyampaikan imbauan serupa kepada warganya di Israel. Sementara itu, Putin mengambil peran diplomatik dengan menjalin komunikasi dengan kedua pihak. Meski Iran menunjukkan sikap yang sedikit melunak, konflik masih berlanjut. Laporan terbaru tentang tiga kapal yang terbakar di dekat Selat Hormuz semakin memicu kekhawatiran.
Terkait perkembangan perdagangan, AS dan Inggris menyatakan siap merampungkan kesepakatan perdagangan dalam beberapa hari mendatang, sementara AS dan Kanada menargetkan kesepakatan dalam 30 hari. Namun, PM Jepang Ishiba mengonfirmasi bahwa tidak ada kesepakatan yang tercapai dengan Trump.
Dari sisi data, Empire State Manufacturing Index AS turun ke level terendah dalam tiga bulan, menekan dolar AS meski daya tariknya sebagai aset safe haven tetap ada. US Dollar Index (DXY) kesulitan mempertahankan kenaikan, emas sedikit melemah, dan harga minyak rebound. Mata uang Australia dan Selandia Baru melepas kenaikan sebelumnya yang didorong oleh harapan gencatan senjata, stimulus China, dan optimisme perdagangan AS-China. Cryptocurrency sedikit menguat, sementara saham bergerak datar setelah dibuka melemah. Imbal hasil obligasi AS dan Jepang naik tipis.
EURUSD dan GBPUSD masih bergerak tanpa arah yang jelas setelah mengawali pekan dengan positif, meski Dolar AS menguat. Optimisme terhadap kesepakatan dagang di G7 memberi dukungan, kendati ketegangan geopolitik meningkat. Sentimen pasar mengindikasikan bahwa Iran mungkin mulai menyadari kekalahannya, dan potensi keterlibatan AS dalam konflik tersebut dapat mempercepat berakhirnya ambisi nuklir Iran, sehingga meredakan tekanan terhadap mata uang utama.
Namun, perundingan dagang UE-AS masih mandek, sementara kesepakatan AS-Inggris tampaknya hampir rampung. Meski demikian, sikap hati-hati para pejabat ECB dan BoE, serta ketidakpastian menjelang pertemuan FOMC dan BoE pekan ini serta data inflasi Zona Euro, membebani para pembeli Euro dan Pound.
USDJPY melemah setelah sempat menyentuh level tertinggi satu pekan, dan mencatat penurunan tipis saat berita ini ditulis. Pelemahan ini terjadi setelah Bank of Japan mengambil keputusan yang secara luas diperkirakan, yaitu mempertahankan suku bunga dan melanjutkan rencana pengurangan pembelian obligasi. Optimisme Tokyo yang berhati-hati terhadap perekonomian, meskipun menghadapi tantangan global, juga mendukung Yen. Sementara itu, daya tarik JPY sebagai aset safe haven terus menekan pasangan ini di tengah sentimen pasar yang beragam.
AUDUSD dan NZDUSD mencatat kenaikan tipis, melanjutkan rebound pada Senin, sementara USDCAD masih tertekan setelah penurunan selama tiga hari membawanya ke level terendah sejak Oktober 2024. Harapan akan berakhirnya perang Israel-Iran dalam waktu dekat, harga minyak yang lebih kuat, dan optimisme atas potensi kesepakatan perdagangan AS-Kanada semakin membebani pasangan Loonie.



Minyak mentah WTI rebound setelah terkoreksi pada Senin. Kenaikan ini didukung laporan terbaru tentang kapal yang terbakar di dekat Selat Hormuz serta laporan bulanan OPEC, yang menegaskan kembali proyeksi permintaan dan kesiapan untuk meningkatkan pasokan jika diperlukan. Namun, penguatan Dolar AS dan sikap hati-hati menjelang data Penjualan Ritel AS serta persediaan minyak swasta membatasi kenaikan lebih lanjut.
Sementara itu, harga emas turun setelah gagal menembus resistance segitiga yang telah terbentuk selama dua bulan. Dolar yang lebih kuat, ketidakpastian geopolitik, sinyal beragam dari China, serta minimnya petunjuk baru terkait permintaan dan pasokan membebani harga emas menjelang sejumlah agenda penting pekan ini.
Bitcoin (BTCUSD) dan Ethereum (ETHUSD) mencatat kenaikan tipis dan mempertahankan tren naik sejak awal pekan. Optimisme kembali tumbuh berkat masuknya kembali arus dana ETF dan pembelian Bitcoin terbaru oleh MicroStrategy, sehingga mendukung para pembeli kripto meski pasar secara keseluruhan masih berhati-hati akibat ketegangan geopolitik yang berlanjut.
Setelah memulai pekan dengan sibuk, pasar bersiap menghadapi volatilitas lebih lanjut dari data Penjualan Ritel AS, data persediaan mingguan, dan perkembangan G7 yang akan datang. Perkembangan antara Israel dan Iran juga akan menjadi penggerak utama menjelang rapat FOMC pada Rabu.
Potensi gencatan senjata antara Israel dan Iran dapat meredakan penghindaran risiko, yang mungkin menekan harga minyak mentah dan membebani mata uang Antipodean. Sementara itu, emas dan mata uang utama dapat tetap didukung, sedangkan dolar AS mungkin melemah jika penjualan ritel mengecewakan dan sentimen membaik. Secara keseluruhan, momentum pasar diperkirakan meningkat—bertransaksilah dengan hati-hati.
Semoga keberuntungan menyertai trading Anda!