
Sentimen pasar terhadap risiko masih beragam pada awal Rabu, meskipun kekhawatiran akibat perang Israel-Hamas mereda. Hal ini mungkin terkait dengan sikap hati-hati menjelang petunjuk penting mengenai inflasi AS dan risalah rapat The Fed, serta ketidakpastian terkait kekhawatiran geopolitik dan ekonomi terhadap China.
Ketidakjelasan pasar, ditambah komentar bernada dovish dari Asisten Gubernur (Pasar Keuangan) Reserve Bank of Australia (RBA), Christopher Kent, menekan AUDUSD dan membuatnya mencatat penurunan harian pertama dalam enam hari terakhir. Sementara itu, EURUSD masih bergerak tidak menentu, tetapi USDJPY mencatat kenaikan tipis meski imbal hasil terus turun. NZDUSD mencatat penurunan terbesar di antara pasangan mata uang G10, sedangkan USDCAD dan USDCHF belakangan ini bergerak tanpa arah yang jelas.
Harga emas masih lesu setelah turun dari level tertinggi dalam sepekan pada hari sebelumnya, sementara harga minyak mentah berbalik menguat setelah merugi sehari sebelumnya, karena pejabat OPEC menepis kekhawatiran terkait permintaan energi China.
Saham Asia-Pasifik bergerak sedikit menguat mengikuti indeks acuan Wall Street, di tengah optimisme terhadap pertumbuhan China dan India serta harapan akan stimulus lebih lanjut dari China dan Jepang yang mempertahankan kebijakan moneter longgar.
BTCUSD mencatat penurunan selama empat hari berturut-turut, sementara ETHUSD turun untuk hari kelima berturut-turut di tengah kekhawatiran pasar kripto. Dolar AS juga enggan melanjutkan penurunan setelah melemah selama lima hari berturut-turut.
Berikut adalah pergerakan terbaru aset-aset utama:



Diawali dengan isu geopolitik, Israel mendapat dukungan kuat dari AS dan meningkatkan responsnya terhadap serangan bom Hamas. Namun, pembicaraan mengenai pembentukan koridor kemanusiaan di Jalur Gaza tampaknya meredakan kekhawatiran akibat perang dan memberi para trader ruang untuk bernapas sejenak.
Selain itu, laporan World Economic Outlook terbaru dari International Monetary Fund (IMF) menunjukkan prospek pertumbuhan PDB global 2024 yang lebih lemah, sementara proyeksi CPI global 2024 dinaikkan menjadi 5,8% dari 5,2% pada Juli. Meski demikian, rincian laporan tersebut mengindikasikan prospek pertumbuhan ekonomi yang positif bagi India dan China. Menurut proyeksi IMF terbaru dan statistik terkini dari China, Negeri Naga menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi dan menopang optimisme di Asia. Bloomberg juga melaporkan bahwa Beijing siap meluncurkan stimulus baru senilai hampir CNY1 triliun ($137.1 miliar) serta meningkatkan defisit untuk mencapai target pertumbuhan tahunan. Namun, Country Garden, pengembang properti bermasalah di salah satu negara utama Asia, kemungkinan akan resmi gagal membayar kupon senilai $15 juta atas utang luar negerinya saat masa tenggang 30 hari berakhir pada 17 Oktober. Hal ini, bersama ketegangan AS-China, dapat menekan sentimen dan menjadi penopang bagi dolar AS.
Di halaman lain, Bank Federal Reserve New York menunjukkan bahwa survei ekspektasi konsumen mencatat kenaikan ekspektasi inflasi konsumen AS untuk satu tahun ke depan menjadi 3,7% pada September, dari 3,6% pada Agustus. Hal ini, bersama pernyataan hawkish dari Fed, menantang para optimis.
Pada Selasa, Presiden Federal Reserve Atlanta Raphael Bostic mengatakan bahwa suku bunga tidak perlu dinaikkan lagi. Ia menjadi pengecualian. Sementara itu, kepala implementasi kebijakan moneter Fed New York, Roberto Perli, mengatakan bahwa "alat pengendalian suku bunga Fed berfungsi dengan baik di tengah tantangan yang terjadi baru-baru ini." Selain itu, Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari menyatakan bahwa suku bunga mungkin perlu dinaikkan lebih lanjut jika ekonomi tetap terlalu kuat. Sementara itu, Presiden Federal Reserve (Fed) Bank San Francisco Mary Daly mengatakan, “Jika imbal hasil obligasi tetap tinggi, dampaknya bisa setara dengan kenaikan suku bunga lagi.”
Perlu dicatat bahwa anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) sekaligus Gubernur Bank of France, Francois Villeroy de Galhau, mengatakan, “pada tahap ini, kenaikan suku bunga lebih lanjut bukanlah langkah yang tepat,” yang kemudian mendorong para pembeli EURUSD. Sejalan dengan itu, Kent dari RBA menyebutkan bahwa kebijakan moneter memperlambat pertumbuhan permintaan dan inflasi.
Selanjutnya, angka final data inflasi Jerman untuk September, Indeks Harga Produsen (PPI) AS, dan Risalah Fed akan menjadi perhatian trader pada Rabu. Tekanan inflasi yang diperkirakan mereda di Jerman dan AS seharusnya mendukung aset berisiko, sementara Risalah Fed yang bernada hawkish dapat menarik minat para trader yang bullish terhadap dolar AS.
Semoga keberuntungan menyertai trading Anda!